Cerita Humor Lucu

Kumpulan cerita humor dan cerita lucu

Browsing Posts tagged kamar

Ada anak bertanya pada bapaknya,
“Pak, kenapa saya dilarang bermain keluar pada malam hari?”

Sang bapak menjawab,
“Karena kamu masih terlalu kecil untuk tau dunia malam
“Tapi, Pak,” kata sang memprotes,

“Kemarin saya wakru melewati kamar bapak saya mendengar bapak ngajak main ibu dan setelah itu mengajak ibu untuk keluar bersama-sama, tapi tidak ngajak aku…”

Seorang gadis desa yang lugu hendak merantau ke kota. Sebelum berangkat ibunya menyampaikan pesan.
“Nduk … kalau kamu ke kota dan kebetulan dapat jodoh di sana, ini ada pesan dari mbokmu untuk mencari jodoh yang baik :

1. Cari pasangan yang setia.
2. Pasangan kamu harus yang hemat.
3. Calon kamu itu harus perjaka ting ting.”

Berangkatlah sang gadis ke kota. Beberapa bulan kemudian dia kembali ke desanya untuk meminta doa restu ingin menikah.
“Mbok.., saya sudah ketemu jodoh dengan syarat seperti yang mbok sampaikan kepada saya. Waktu itu kami berjalan-jalan keliling kota. Dia selalu saja menggandeng saya dengan mesra bukankah itu tanda pasangan yang setia ?”Si mbok mangut-mangut.
Kemudian karena kemalaman dan kehujanan kami mencari tempat berteduh dan menginap. Pacar saya ini bilang , “Dik kita nginap saja di hotel, untuk menghemat biaya bagaimana kalau kita hanya menyewa 1 kamar saja”. Bukankah pacar saya orangnya hemat mbok ?”
Untuk kedua kali simbok mangut-mangut.
“Dan akhirnya mbok, saya tahu kalau pacar saya itu masih perjaka ting-ting.”
Langsung si mbok serius memandangi putrinya.
“Dari mana kamu tahu bahwa dia masih perjaka ting-ting ?”
Sang gadis langsung menjawab, “Anunya masih dibungkus plastik mbok..”

Eddy lulus AKABRI jurusan kepolisian dan akhirnya jadi reserse kriminil. Ayahnya, seorang pengusaha yang kenal Kapolri yang sekarang, menitipkan kepada jendral polisi itu agar dapat dibimbing di Jakarta. Eddy ditugaskan di bawah asuhan langsung Dan Reskrim Gories Mere yang termashur itu.

Beberapa bulan kemudian, waktu Eddy mengunjungi ayahnya, si ayah bertanya: “Apa yang sudah kamu dapatkan dari pengalamanmu di bawah Pak Gories, Nak?”.

“Ada, ayah. Saya punya pengalaman yang menarik dengan Pak Gories Mere.” Lalu Eddy bercerita kepada ayahnya: “Pada suatu malam, kami dapat telepon dari bagian sekuriti Hotel Grand Hyatt. Rupanya di sebuah kamar ditemukan perempuan dan seorang pria mati dalam keadaan tidur dan telanjang. Mereka rupanya orang Amerika.”

“Wah! Lalu apa yang Pak Gories lakukan, nak?” tanya si ayah kagum.

“Pak Gories dengan tenang memakai topi beliau mengambil tongkat komando, dan sebelum berangkat meneguk vodka tonik yang tersedia di sudut meja. Beliau tidak pernah tergesa-gesa, Ayah. Beliau selalu kalem dan lalu beliau menyuruh saya mengiringi masuk ke mobil. Mobil pun berangkat ke Grand Hyatt.

Kami menemui manajer hotel, dan kepada kami diberitahu nomor kamar di mana insan telanjang itu kedapatan mati. Manajer kelihatan gugup, waktu ia mengantarkan kami menuju ke kamar itu. Tetapi Pak Gories sangat tenang dan gagah. Semua dilakukan dengan tanpa ribut-ribut, supaya tidak heboh di kalangan tamu hotel …”

“Lalu?”, seru si ayah. “Yah, Pak Gories pun masuk ke kamar itu dengan tanpa mengeluarkan bunyi. Saya dan manajer hotel bersijingkat mengikuti beliau. Di dalam kamar itu, benar juga seperti yang dilaporkan: di tempat tidur terbaring tubuh seorang pria bule dan tergetelak di sebelah tubuh seorang perempuan bule, telanjang … tapi ada yang aneh dan mencurigakan …”

Eddy berhenti sebentar di sini, mengambil gelas untuk minum. Bapaknya menunggu tegang.

“Apa yang aneh dan mencurigakan?”.

Eddy meneruskan ceritanya. “Yang aneh dan mencurigakan ialah bahwa kemaluan laki-laki itu ternyata masih berdiri tegak”.

“Waduh! Apa yang terjadi?”, tanya si ayah.

“Mula-mula saya tidak tahu, pak. Tapi kemudian Pak Gories dengan tenang memukulkan keras-keras tongkat komandonya ke ujung kemaluan itu, dan …”

“Dan apa, Nak?”

“Terdengar teriak keras. Laki-laki bule itu berteriak. Ia bangkit. Juga tubuh perempuan itu tiba-tiba berdiri. Kemudian baru kami tahu bahwa rupanya kami memasuki kamar yang salah.”

Ita baru masuk SMU, masa-masa pubernya bikin dia centil dan suka ngerjain orang. Kali ini dia dapet kata-kata baru buat ngerjain orang. Hari pertama, dia nelepon temannya :

“Rin, gue udah tau semuanya !” “Hah..” Suara disana terdengar lemas.”Ta, elu jangan bilang Indri kalo gue jalan sama cowoknya ya Ta. Gue ada voucher makan di HokBen, elu jangan bilang-bilang yah. Sori gue cuma bisa ngasih itu doang.” “Okelah, gue sih terima aja, lu kan temen gue.”

Begitu telepon ditutup, Ita langsung teriak girang. “Wah oke juga nih, gue dapet voucher HokBen !! Coba gue praktekin lagi.” Kali ini Ita masuk kamar kakaknya dan langsung bicara pelan didekat kuping kakaknya yang lagi tiduran.

“Wer, gue udah tau semuanya. Ternyata gitu ya Wer.” Dower langsung bangun, mengambil sebuah kunci dan berbisik pada Ita. “Ta, lu boleh pake mobil sebulan penuh plus gue kasih bensinnya. Tapi jangan bilang Papi kalo gue nge-gele yah !!!”

“BEres. “

Ita benar-benar girang, kali ini dia mencegat Papinya yang baru pulangkerja. “Pah,.” Ita mengejar Papinya yang cuek bebek “Pah, Ita mau ngomong.” “Ada apa sih Ta ?!! Papa capek nih.” “Ita udah tau semuanya Pah…” Mendadak PApanya celingukan, mengeluarkan HP dan menelepon seseorang

“Ta, Credit Card kamu udah Papa aktifkan lagi. Tapi !!! Jangan pernah bilang Mama soal si Astrid.” Ita girang campur sebel. Ternyata Papanya menduakan Mama cuma demi pembantunya si Astrid

Ita langsung berlari tanpa sepatah katapun

Diluar, Ita bertemu Pak Udi, sopirnya yang sudah belasan tahun bekerja dirumahnya. Ita mulai usil lagi. Dia kesal juga, pasti dia tau soal si Astrid, tapi bungkam selama ini, gue kerjain juga nih, pikirnya.

“Pak !!!” Ita benar-benar membuat kaget sopirnya “Saya sudah tau semuanya.”

Pak Udi terbengong, dan perlahan meneteskan airmata. Ita malah bingung.

“Ita !!! Peluklah Bapakmu ini Sayang. Akhirnya kau tahu juga Nak !”